Krontjong Toegoe | |
Andre J Michiels adalah putra ketiga dari keluarga Michiels, pemusik krontjong terkenal di kawasan Tugu. Dari tingkat dua kantornya, Andre memutar CD terbarunya Oud Batavia Kerinduan. Pecinta krontjong Walter de Kok meyakinkan Andre untuk membuat album setelah pentas di Belanda pada tahun 2006. | |
Untuk ke empat kalinya mereka akan tampil di Belanda. “Di Pasar Malam Besar nanti kami akan pentas 12 hari, dua kali dalam sehari,” tutur Arthur. Ia adalah pemain bas pertama di Krontjong Toegoe. Sebelumnya, orkes ini menggunakan cello. “Hanya di krontjong Indonesia saja, orang memetik cello seperti bas,” lanjutnya. | |
Kampung Tugu terletak empat kilometer sebelah barat Pelabuhan Tanjung Priok, di Kecamatan Cilincing dan Kelurahan Semper Barat. Di tahun 1661, ada kira-kira 20 keluarga keturunan Portugis Hitam atau Mardijkers dengan jumlah keseluruhan 150 orang. Kebanyakan dari mereka adalah tahanan perang atau serdadu Portugis. | |
Rombongan duta besar tersebut disuguhi musik krontjong dan di akhir acara mereka menawarkan kursus bahasa Portugis bagi penduduk setempat. Arthur menyambut antusias tawaran kursus itu. Ia ingin memperbaiki lafal beberapa lagu berbahasa Portugis dan kelak mewariskan ke generasi berikutnya dengan ucapan yang baik dan benar. | |
Persaudaraan akrab terlihat menonjol di antara anggota orkes. Lengan sebagian musisi dihiasi dengan tattoo. Mereka tersenyum ketika ditanya tentang pentas di Pasar Malam Besar dan fans mereka, terutama gadis-gadis Belanda. “Pasar Malam luar biasa. Penonton sangat menghargai krontjong. Namun, kami lebih senang tinggal di Indonesia. Tugu adalah kampung kami,” sela Tino, adik laki-laki bungsu Andre dan Arthur. | |
Andre dan Saartje tampil menawan dan selalu menyelipkan humor-humor segar di sela-sela pentas mereka. Penonton ikut tergelak dan menikmati atmosfir santai sembari bernostalgia di Batavia. Sejenak penonton lupa berada di dalam studio televisi. Andy Noya memasuki podium diiringi aplaus penonton. Sekali lagi floor-manager memberikan instruksi, “Lima, empat, tiga, dua, satu!” Krontjong Toegoe kembali beraksi. | |